Authentication
258x Tipe PDF Ukuran file 0.25 MB Source: staffnew.uny.ac.id
PERKEMBANGAN FILSAFATANALITIKABAHASA:
DARI G.E MOOREHINGGA J.L AUSTIN
1
Iman Santoso
Abstrak
Bahasa sejak dahulu kala telah menjadi perhatian para filsuf, karena mereka menyadari betapa
pentingnya peran bahasa dalam kehidupan manusia. Bahasa berperan untuk mengejawantahkan
pikiran manusia dalam mencari dan menemukan hakikat realitas dari segala sesuatu yang
dilambangkan dalam simbol bunyi. Selain itu dalam dunia filsafat, bahasa berperan untuk
merepresentasikan pemikiran-pemikiran filosofis agar bisa diketahui oleh masyarakat luas.
Namun seringkali konsep pemikiran filosofis diungkapkan dalam bahasa yang
membingungkan. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu kemunculan filsafat analitika
bahasa. Filsafat analitika bahasa berupaya untuk memecahkan dan menjelaskan persoalan dan
konsep-konsep filsafat dengan bantuan analisis bahasa. Perkembangannya dimulai oleh filsuf
dari Inggris yaitu G. E Moore, yang kemudian diikuti oleh Bertrand Russel, Wittgenstein
hingga J.L Austin. Dari pemikiran Wittgenstein (2) dan J.L Austin inilah yang selanjutnya
memunculkan kajian pragmatik di dunia linguistik.
1 Penulis adalah dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman FBS – Universitas Negeri Yogyakarta
A. PENDAHULUAN
Dalam melakukan kegiatan filsafat manusia tidak bisa melepaskan diri dari peranan
bahasa. Filsafat dan bahasa merupakan dua buah entitas yang tidak bisa dipisahkan ibarat
sekeping mata uang. Jika filsafat dipahami sebagai metode berpikir secara logis (masuk akal),
mendalam (radikal) dan bersifat universal mengenai segala sesuatu yang ada seperti
keberadaan Tuhan, alam semesta, dan manusia dengan segala bentuk relasi dalam
kehidupannya (Hidayat, 2006:11-12), maka alat berpikir serta produk dari proses berpikir tadi
hanya dapat diungkapkan menggunakan bahasa. Hal ini ditegaskan juga oleh Kaelan (1998:8)
bahwa filsafat merupakan aktivitas manusia yang berpangkal pada alat pikiran manusia untuk
menemukan kearifan dalam hidupnya, terutama dalam mencari dan menemukan hakikat
realitas dari segala sesuatu, menemukan hubungan yang sangat erat dengan bahasa terutama
bidang semantik. Meskipun disadari bahwa bahasa memiliki keterbatasan, seperti ketaksaan,
tergantung pada konteks, kesamaran, inexplicitness dan menyesatkan (misleadingness), bahasa
tetap merupakan alat (media) pengembang pikiran manusia terutama dalam mengungkapkan
realitas segala sesuatu. Hal ini didukung oleh Alwasilah (2008:14) yang menegaskan bahwa
bahasa merupakan alat untuk mengejawantahkan pikiran tentang fakta dan realitas yang
direpresentasi lewat simbol bunyi.
Kaitan antara bahasa dan filsafat sedemikian erat, sehingga tidak mengherankan jika
perhatian terhadap bahasa oleh para filsuf sudah muncul sejak jaman Yunani. Diskursus
melalui bahasa dan tentang bahasa dalam menyibak hakikat realitas telah banyak dilakukan
oleh para filsof sejak zaman pra Sokrates (Kaelan, 1998:25). Di awal abad 20 kemudian
muncul dalam rumah besar filsafat sebuah kapling yang disebut dengan filsafat bahasa,
berdampingan dengan kapling-kapling lainnya.
Filsafat bahasa pada dasarnya merupakan penyelidikan secara mendalam terhadap
bahasa yang dipergunakan dalam filsafat. Filsafat bahasa dapat dibedakan dalam dua kelompok
(Kaelan, 1988:6., dan Alwasilah, 2008:14). Pertama, perhatian filsuf terhadap bahasa dalam
memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep dalam filsafat dengan
bantuan analisis bahasa. Kedua, filsafat bahasa yang sejajar dengan bidang-bidang filsafat
lainnya seperti filsafat hukum, filsafat alam dll. Objek material dari filsafat bahasa ini adalah
bahasa itu sendiri, sehingga kerja filsafat dalam kelompok ini adalah upaya menjawab
pertanyaan-pertanyaan seputar hakikat bahasa, fungsi bahasa, hubungan bahasa dan realitas,
jenis-jenis sistem simbol, dan dasar-dasar untuk mengevaluasi bahasa. Berdasarkan pembedaan
tersebut, filsafat analitika bahasa termasuk dalam kelompok pertama. Perkembangan filsafat
analitis menurut Bakker (dalam Kaelan, 2004: 133) dilatarbelakangi oleh adanya kekacauan
bahasa filsafat. Banyak teori serta konsep filsafat dipaparkan dengan bahasa yang
membingungkan, bahkan semakin jauh dari bahasa sehari-hari.
Dalam makalah ini akan dipaparkan perkembangan filasafat analitika bahasa mulai dari
pemikiran tokoh yang pertama kali meletakan dasar-dasar filsafat analitis yaitu G.E Moore,
dilanjutkan oleh pemikiran Betrand Russel, serta Wittgenstein yang fenomenal dan diakhiri
dengan pemaparan pemikiran Austin dari Oxford yang menjadi “bidan” kelahiran ilmu
pragmatik. Dari sederet tokoh yang disebutkan, Wittgenstein dianggap yang paling fenomenal,
karena melontarkan dua teori yang kontradiktif, namun saling melengkapi.
B. PEMBAHASAN
1. Pemikiran Filsuf Moore dan Bertrand Russel: Atomisme Logis
G.E. Moore (1873 – 1958) adalah seorang filsuf berkebangsaan Inggris yang sering
disebut sebagai pelopor filsafat analitika bahasa dan sudah menuliskan karya pemikirannya
dalam sebuah buku berjudul Principia Ethica. Pemikiran G. E Moore pada dasarnya
merupakan reaksi balik terhadap atmosfer berfilsafat di Inggris yang saat itu didominasi oleh
paham idealisme yang masuk ke Inggris sekitar abad ke 19. Aliran ini sering disebut sebagai
neo-hegelianisme. Neo-hegelianisme ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan neo-
Platonisme yang memberi ruang cukup luas pada gagasan-gagasan metafisika, dan terutama
sangat dekat dengan pandangan-pandangan metafisis agama. Salah satu pandangan pokok neo-
hegelianisme adalah realitas itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, itulah roh
absolut (Hidayat, 2006:42, 44).
G.E Moore memang tidak menolak metafisika, namun dalam berbagai uraiannya dia
tidak mempraktekan metafisika. Ia bahkan lebih banyak bersikap kritis terhadap pandangan
metafisika, sehingga secara tidak langsung telah membangun tumbuhnya sikap kritis dan
skeptis terhadap metafisika. Menurut Bertens (dalam Kaelan, 1998:91), Moore telah
memberikan sumbangan tumbuhnya aliran baru di Inggris yaitu atomisme logis yang
mengkritik dan bahkan menolak metafisika. Menurut Moore, banyak ungkapan-ungkapan
dalam filsafat yang tidak dapat dipahami oleh akal sehat (common sense) karena menggunakan
ungkapan-ungkapan yang metafisis, seperti waktu adalah tidak real, jiwa itu adalah abadi.
Berdasarkan itulah para penganut atomisme logis berpendapat bahwa analisa bahasa harus
berdasarkan pada logika, sehingga ungkapan-ungkapan bahasa yang melukiskan suatu realitas
terwujud dalam bentuk proposisi-proposisi. Formulasi pemikiran filsafat yang mendasarkan
pada suatu analisis melalui bahasa dan didasarkan atas logika inilah yang merupakan
sumbangan terbesar Moore terhadap atomisme logis.
Menurut Moore (Hidayat, 2006:46) tugas filsafat yang utama adalah memberikan
penjelasan terhadap suatu konsep yang siap untuk diketahui melalui kegiatan analisa bahasa
berdasarkan akal sehat. Kegiatan analisis dapat diartikan sebagai kegiatan menjelaskan suatu
pikiran , suatu konsep yang diungkapkan, mengeksplisitikan semua yang tersimpul di
dalamnya, merumuskan dengan kata lain, memecahkan suatu persoalan ke dalam detail-detail
kecil. Dalam kaitannya dengan upaya menjelaskan tersebut terdapat istilah analysandum yang
berarti pangkal yang harus diuraikan dan analysant atau bagian yang menguraikan. Kedua
bagian tersebut , menurut Langford (dalam Kaelan 1998:93) tidak harus sama identik,
melainkan harus sama dalam arti mempunyai kondisi-kondisi kebenaran yang sama. Atau
dengan kata lain bagian analysant harus (bisa) berisi kalimat-kalimat lain yang mempunyai arti
sama tetapi mempunyai bentuk yang lebih jelas.
Konsep dasar pemikiran Moore, kemudian dilanjutkan oleh filsuf berkebangsaan
Inggris lainnya yaitu Bertrand Russel. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh paham idealisme
dan empirisme. Pada beberapa titik, ia memang sejalan dengan Moore, namun sebagian besar
sangat berbeda. Di sisi lain Russel banyak melakukan interaksi dengan Wittgenstein, bahkan
diakui bahwa konsep atomisme logis berkembang dengan pesat atas jasa keduanya.
Russel berpendapat bahwa tujuan filsafat yang utama ada 3 macam. Pertama, filsafat
memiliki tujuan untuk mengembalikan seluruh ilmu pengetahuan kepada bahasa yang paling
padat dan sederhana. Kedua, menghubungkan logika dengan matematika. Dan ketiga, ialah
analisis bahasa. Tujuan analisis bahasa adalah untuk mencari pengetahuan yang benar
mengenai realitas (Hidayat, 2006:48). Berdasarkan ketiga tujuan tersebut, terlihat bahwa logika
merupakan kunci pemikiran Russel. Dia berpendapat bahwa bahasa sehari-hari tidak cukup
memadai untuk melakukan kegiatan filsafat karena mengandung banyak kelemahan. Oleh
karena itu Russell membangun pemikirannya melalui bahasa yang berdasarkan formulasi
logika.
no reviews yet
Please Login to review.