Authentication
467x Tipe DOC Ukuran file 0.15 MB
BAB VII
BEHAVIORISME
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang mengkaji perilaku individu
terhadap setiap aktivitas individu yang dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis
yang terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak
keras adanya aspek-aspek kesadaran atau mentalitas dalam individu. Pandangan ini
sebetulnya sudah berlangsung lama sejak jaman Yunani Kuno, ketika psikologi masih
dianggap bagian dari kajian filsafat.
TEORI BEHAVIORISME
Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak
saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal
dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.
Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan.
Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau
emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian
oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada
tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi
respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku
mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari
teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis,
menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon,
menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil
belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah
munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R
psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward
dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah
laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan
stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahl aku
siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Lidianti M.Psi PSIKOLOGI UMUM I 1
Prinsip-prinsip teori behaviorisme :
- Obyek psikologi adalah tingkah laku
- semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek
- mementingkan pembentukan kebiasaan
Adapun beberapa tokoh-tokoh behavioris yang berkembang dari tahun 1874
sampai saat sekarang ini :
Edward Edward Lee Thorndike (1874-(1874-1949))
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi
anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori
“connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan
pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di
dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-
ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon
terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada
kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Thorndike menemukan hukum-hukum :
1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus
maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga
asosaiasi cenderung diperkuat.
2. Hukum latihan
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut
semakin kuat.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Lidianti M.Psi PSIKOLOGI UMUM I 2
3. Hukum akibat
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan
cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Seorang fisiolog, psikolog, dan dokter Rusia. Ia dilahirkan di sebuah desa kecil
di Rusia tengah. Keluarganya mengharapkannya menjadi pendeta, sehingga ia
bersekolah di Seminari Teologi. Setelah membaca Charles Darwin, ia menyadari
bahwa ia lebih banyak peduli untuk pencarian ilmiah sehingga ia meninggalkan
seminari ke Universitas St. Petersburg. Di sana ia belajar kimia dan fisiologi, dan
menerima gelar doktor pada 1879. Ia melanjutkan studinya dan memulai risetnya
sendiri dalam topik yang menariknya: sistem pencernaan dan peredaran darah.
Karyanya pun terkenal, dan diangkat sebagai profesor fisiologi di Akademi Kedokteran
Kekaisaran Rusia.
Anjing Pavlov, Museum Pavlov, 2005
Karya yang membuat Pavlov memiliki reputasi sebenarnya bermula sebagai
studi dalam pencernaan. Ia sedang mencari proses pencernaan pada anjing,
khususnya hubungan timbal balik antara air ludah dan kerja perut. Ia sadar kedua hal
itu berkaitan erat dengan refleks dalam sistem saraf otonom. Tanpa air liur, perut tidak
membawa pesan untuk memulai pencernaan. Pavlov ingin melihat bahwa rangsangan
luar dapat mempengaruhi proses ini, maka ia membunyikan metronom dan di saat
yang sama ia mengadakan percobaan makanan anjing. Setelah beberapa saat, anjing
itu -- yang hanya sebelum mengeluarkan liur saat mereka melihat dan memakan
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Lidianti M.Psi PSIKOLOGI UMUM I 3
makanannya -- akan mulai mengeluarkan air liur saat metronom itu bersuara, malahan
jika tiada makanan ada. Pada 1903 Pavlov menerbitkan hasil eksperimennya dan
menyebutnya "refleks terkondisi," berbeda dari refleks halus, Pavlov menyebut proses
pembelajaran ini (sebagai contoh, saat sistem saraf anjing menghubungkan suara
metronom dengan makanan) "pengkondisian". Ia juga menemukan bahwa refleks
terkondisi akan tertekan bila rangsangan ternyata terlalu sering "salah". Jika metronom
bersuara berulang-ulang dan tidak ada makanan, anjing akan berhenti mengeluarkan
ludah.
Teori classical conditioning adalah memasangkan stimuli yang netral atau
stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang
melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli
yang netral melahirkan respons terkondisikan.
Mula-mula oleh Pavlov anjing percobaan itu diikat dan dioperasi pada bagian
rahangnya sedemikian rupa untuk dipasangi alat pengukur, sehingga nantinya air liur
yang keluar bisa ditampung dan diukur banyaknya. Selanjutnya anjing percobaan ini
ditaruh pada suatu tempat yang nantinya akan mengeluarkan makanan. Makanan ini
akan keluar kehadapan anjing percobaan setiap Pavlov menekan tombol. Kemudian,
setiap menghadapi makanan, anjing percobaan akan mengeluarkan air liurnya yang
bisa diketahui dengan alat pengukur. Keluarnya air liur dari mulut anjing setelah
melihat makanan ini disebut respons tak berkondisi (unconditionied response),
sedangkan makanan ini sendiri disebut stimulus tak berkondisi (unconditioned
stimulus).
Pada tahap percobaan berikutnya Pavlov mengeluarkan makanan dengan
terlebih dahulu membunyikan bel. Jadi, setiap bel dibunyikan anjing akan menerima
makanan, dan dari mulutnya akan keluar air liur. Setelah pemberian makanan dengan
didahului bunyi bel ini akan dilakukan berkali-kali, Pavlov menemukan bahwa anjing
percobaannya telah mengeluarkan air liur begitu mendengar bunyi bel. Kemudian pada
tahap terakhir, Pavlov menghentikan pemberian makanan, dan anjing percobaannya
hanya menerima bunyi bel. Dan ternyata, meski hanya menerima bunyi bel tanpa
menerima makanan, anjing percobaan tetap mengeluarkan air liurnya. Oleh Pavlov air
liur yang keluar dari mulut anjing percobaan karena menerima bunyi bel ini disebut
respons berkondisi (conditioned response), sedangkan bunyi belnya disebut stimulus
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Lidianti M.Psi PSIKOLOGI UMUM I 4
no reviews yet
Please Login to review.