Authentication
351x Tipe PDF Ukuran file 0.06 MB Source: digilib.uinsby.ac.id
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk
mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan itu
dilandasi oleh metode keilmuan. Menurut Suria Sumantri metode keilmuan ini
merupakan gabungan antara pendekatan rasional dan empiris. Pendekatan rasional
memberikan kerangka berpikir yang koheren dan logis, sedangkan empiris
memberikan kerangka pengujian dalam memastikan suatu keabsahan.19
Paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun
berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang
menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Karena penolakannya
terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-kadang dianggap
sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan
dengan Idealisme).
Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan
(knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan
yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap
lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason20Secara
epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa
sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan
19
Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, (Bandung: Alfabeta, 1997), 37
20
Tamrin Amal Tomagola, “Dasar-dasar Filosofis Positivisme”, makalah pada Pelatihan
Penelitian Tenaga Edukatif IAIN se-Indonesia, di Jakarta (tidak diterbitkan), h. 1.
28
29
lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory
experience). Hal ini sekaligus mengindikasikan, bahwa secara ontologis, obyek
studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum
antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang
dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory
experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja.
Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera,
maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi.
Bagaimana pandangan penganut kuantitatif tentang fakta? Dalam
penelitian kuantitatif diyakini sejumlah asumsi sebagai dasar otologisnya dalam
melihat fakta atau gejala. Asumsi-asumsi dimaksud adalah; (1) obyek-obyek
tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat
maupun dimensi lainnya; (2) suatu benda atau keadaan tidak mengalami
perubahan dalam jangka waktu tertentu; dan (3) suatu gejala bukan merupakan
suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan akibat dari faktor-
faktor yang mempengaruhinya. Jadi diyakini adanya determinisme atau proses
sebab-akibat (causalitas). Dalam kaitannya dengan poin terakhir, lebih jauh Russel
Keat & John Urry, seperti dikutip oleh Tomagola, mengemukakan bahwa setiap
individual event/case tidak mempunyai eksistensi sendiri yang lepas terpisah dari
kendali empirical regularities. Tiap individual event/case hanyalah manifestasi
atau contoh dari adanya suatu empirical regularities21
21
Tamrin Amal Tomagola, “Dasar-dasar Filosofis Positivisme”, h. 8.
30
Sejalan dengan penjelasan di atas, secara epistemologi, paradigma
kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua, yaitu pemikiran
rasional data empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan
korespondensi. Koheren besarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, serta
korespondens berarti sesuai dengan kenyataan empiris. Kerangka pengembangan
ilmu itu dimulai dari proses perumusan hipotesis yang deduksi dari teori,
kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara
induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis, pengembangan
ilmu itu berputar mengikuti siklus; logico, hypothetico, verifikatif.22
Dalam metode kuantitatif, dianut suatu paradigma bahwa dalam setiap
event/peristiwa sosial mengandung elemen-elemen tertentu yang berbeda-beda
dan dapat berubah. Elemen-elemen dimaksud disebut dengan variabel. Variabel
dari setiap even/case, baik yang melekat padanya maupun yang
mempengaruhi/dipengaruhinya, cukup banyak, karena itu tidak mungkin
menangkap seluruh variabel itu secara keseluruhan. Atas dasar itu, dalam
penelitian kuantitatif ditekankan agar obyek penelitian diarahkan pada variabel-
variabel tertentu saja yang dinilai paling relevan. Jadi, di sini paradigma
kuantitatif cenderung pada pendekatan partikularistis.
Lebih khusus mengenai metode analisis dan prinsip pengambilan
kesimpulan, Julia Brannen, ketika menjelaskan paradigma kuantitatif dan
kualitatif, mengungkap paradigma penelitian kuantitaif dari dua aspek penting,
yaitu: bahwa penelitian kuantitatif menggunakan enumerative induction dan
22
Jujun S. Suriasumatri, Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang
Hakekat Ilmu, (Jakarta: Gramedia, 1989), h. 7-8.
31
cenderung membuat generalisasi (generalization). Penekanan analisis data dari
pendekatan enumerative induction adalah perhitungan secara kuantitatif, mulai
dari frekuensi sampai analisa statistik. Selanjutnya pada dasarnya generalisasi
adalah pemberlakuan hasil temuan dari sampel terhadap semua populasi, tetapi
karena dalam paradigma kuantitatif terdapat asumsi mengenai adanya
“keserupaan” antara obyek-obyek tertentu, maka generalisasi juga dapat
didefinisikan sebagai universalisasi.
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam pendekatan dibutuhkan pendekatan penelitian yang sesuai,
penulisan ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dan jenis
penelitian korelasi.
Metode korelasional sebenarnya kelanjutan dari metode deskriptif.
Dengan metode deskriptif, kita menghimpun data, menyusun secara
sistematis, faktual dan cermat menurut Isaac dam Michael 1981: 46, metode
deskriptif tidak menjelaskan hubungan diantara variabel, tidak menguji
hipotesis atau melakukan prediksi.23
Metode korelasi bertujuan meneliti hubungan Rubrik Sufi dengan
tingkat pemahaman masyarakat berkaitan kalau dua variabel saja yang kita
hubungkan korelasinya disebut korelasi sederhana (simple correlation).
Metode korelasional digunakan untuk; (1) Mengukur hubungan
diantara berbagai variabel, (2) Meramalkan variabel tak bebas dari
23 Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1995)h.27
no reviews yet
Please Login to review.