350x Tipe DOC Ukuran file 0.01 MB
filsafat
Peranan filsafat bagi
Perkembangan Ilmu
Psikologi
Reza A.A Wattimena
http://rezaantonius.wordpress.com/2008/10/21/peranan-
filsafat-bagi-perkembangan-ilmu-
psikologi/
Filsafat bisa menegaskan akar
historis ilmu psikologi. Seperti
kita tahu, psikologi, dan semua ilmu lainnya, merupakan pecahan
dari filsafat. Di dalam filsafat, kita juga bisa menemukan
refleksi-refleksi yang cukup mendalam tentang konsep jiwa dan
perilaku manusia. Refleksi-refleksi semacam itu dapat ditemukan
baik di dalam teks-teks kuno filsafat, maupun teks-teks filsafat
modern. Dengan mempelajari ini, para psikolog akan semakin
memahami akar historis dari ilmu mereka, serta pergulatan-
pergulatan macam apa yang terjadi di dalamnya. Saya pernah
menawarkan kuliah membaca teks-teks kuno Aristoteles dan Thomas
Aquinas tentang konsep jiwa dan manusia. Menurut saya, teks-teks
kuno tersebut menawarkan sudut pandang dan pemikiran baru yang
berguna bagi perkembangan ilmu psikologi.
Secara khusus, filsafat bisa memberikan kerangka berpikir
yang sistematis, logis, dan rasional bagi para psikolog, baik
praktisi maupun akademisi. Dengan
ilmu logika, yang merupakan salah satu
cabang filsafat, para psikolog dibekali kerangka berpikir yang
kiranya sangat berguna di dalam kerja-kerja mereka. Seluruh ilmu
pengetahuan dibangun di atas dasar logika, dan begitu pula
psikologi. Metode pendekatan serta penarikan kesimpulan
seluruhnya didasarkan pada prinsip-prinsip logika. Dengan
mempelajari logika secara sistematis, para psikolog bisa mulai
mengembangkan ilmu psikologi secara sistematis, logis, dan
rasional. Dalam hal ini, logika klasik dan logika kontemporer
dapat menjadi sumbangan cara berpikir yang besar bagi ilmu
psikologi.
Filsafat juga memiliki cabang yang kiranya cukup penting
bagi perkembangan ilmu psikologi, yakni
etika. Yang dimaksud etika
disini adalah ilmu tentang moral. Sementara, moral sendiri
berarti segala sesuatu yang terkait dengan baik dan buruk. Di
dalam praktek ilmiah, para ilmuwan membutuhkan etika sebagai
panduan, sehingga penelitiannya tidak melanggar nilai-nilai moral
dasar, seperti kebebasan dan hak-hak asasi manusia. Sebagai
praktisi, seorang psikolog membutuhkan panduan etis di dalam
kerja-kerja mereka. Panduan etis ini biasanya diterjemahkan dalam
bentuk kode etik profesi psikologi. Etika, atau yang banyak
dikenal sebagai filsafat moral, hendak memberikan konsep berpikir
yang jelas dan sistematis bagi kode etik tersebut, sehingga bisa
diterima secara masuk akal. Perkembangan ilmu, termasuk
psikologi, haruslah bergerak sejalan dengan perkembangan
kesadaran etis para ilmuwan dan praktisi. Jika tidak, ilmu akan
menjadi penjajah manusia. Sesuatu yang tentunya tidak kita
inginkan.
Salah satu cabang filsafat yang kiranya sangat
mempengaruhi psikologi adalah eksistensialisme. Tokoh-tokohnya
adalah Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Viktor Frankl,
Jean-Paul Sartre, dan Rollo May. Eksistensialisme sendiri adalah
cabang filsafat yang merefleksikan manusia yang selalu
bereksistensi di dalam hidupnya. Jadi, manusia dipandang sebagai
individu yang terus menjadi, yang berproses mencari makna dan
tujuan di dalam hidupnya. Eksistensialisme merefleksikan problem-
problem manusia sebagai individu, seperti tentang makna,
kecemasan, otentisitas, dan tujuan hidup. Dalam konteks
psikologi, eksistensialisme mengental menjadi pendekatan
psikologi eksistensial, atau yang
banyak dikenal sebagai terapi
eksistensial. Berbeda dengan
behaviorisme, terapi eksistensial memandang manusia sebagai
subyek yang memiliki kesadaran dan kebebasan. Jadi, terapinya pun
disusun dengan berdasarkan pada pengandaian itu. Saya pernah
memberikan kuliah psikologi eksistensial, dan menurut saya,
temanya sangat relevan, supaya ilmu psikologi menjadi lebih
manusiawi. Ini adalah pendekatan alternatif bagi psikologi
klinis.
Dalam metode, filsafat bisa menyumbangkan
metode
fenomenologi sebagai alternatif
pendekatan di dalam ilmu psikologi. Fenomenologi sendiri memang
berkembang di dalam filsafat. Tokoh yang berpengaruh adalah
Edmund Husserl, Martin Heidegger, Alfred Schultz, dan Jean-Paul
Sartre. Ciri khas fenomenologi adalah pendekatannya yang mau
secara radikal memahami hakekat dari realitas tanpa terjatuh pada
asumsi-asumsi yang telah dimiliki terlebih dahulu oleh seorang
ilmuwan. Fenomenologi ingin memahami benda sebagai mana adanya.
Slogan fenomenologi adalah kembalilah kepada obyek itu sendiri.
Semua asumsi ditunda terlebih dahulu, supaya obyek bisa tampil
no reviews yet
Please Login to review.